Naratifmedia.com – Sebanyak 3.823 guru honorer di Jawa Barat dilaporkan belum menerima gaji sejak Maret 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut anggaran sebenarnya sudah tersedia, namun pencairan tertahan karena belum ada persetujuan dari Kementerian PANRB.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan akan segera menemui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Rini Widyantini, guna meminta arahan teknis terkait pembayaran gaji tenaga honorer tersebut.
Menurut Dedi, anggaran untuk pembayaran gaji sebenarnya telah dialokasikan melalui APBD. Namun, dana tersebut belum bisa dicairkan karena adanya aturan dari Kementerian PANRB yang melarang pembayaran kepada tenaga honorer tanpa persetujuan resmi.
“Uangnya ada, sudah teralokasikan, tetapi ada edaran Menteri PAN-RB yang menyatakan kami tidak boleh membayarkan gaji pegawai honorer. Nanti kalau dibayarkan ada penyimpangan keuangan,” ujar Dedi, dikutip dari Tempo.co, Kamis (23/4/2026).
Dedi menjelaskan bahwa tenaga honorer di sektor pendidikan mencakup berbagai posisi, mulai dari guru, tenaga administrasi, hingga petugas kebersihan sekolah. Keberadaan mereka dinilai masih sangat dibutuhkan karena keterbatasan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan Jawa Barat.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Barat, terdapat 3.823 tenaga honorer yang belum menerima gaji selama dua bulan terakhir. Kondisi ini terjadi sejak Maret 2026 dan berdampak langsung pada operasional sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menyebut keberadaan tenaga honorer masih sangat diperlukan. Hal ini disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja di sejumlah sekolah.
“Dibutuhkan karena kekurangan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa anggaran sebenarnya telah tersedia dalam APBD, namun proses pencairan masih menunggu rekomendasi resmi dari Kementerian PANRB.
Rencana pertemuan antara Dedi Mulyadi dan Menteri PANRB dijadwalkan berlangsung pada pekan depan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap ada solusi cepat agar pembayaran gaji dapat segera dilakukan.
“Tidak mungkin sekolah berjalan tanpa guru karena honorer tidak dibayar,” kata Dedi.
