Naratifmedia.com – Lebih dari 107 ribu hektare hutan dan lahan di Indonesia terbakar sepanjang 2026. Cuaca panas, minim hujan, dan angin kencang membuat api lebih cepat menyebar di sejumlah wilayah.
Berdasarkan laporan BBC Indonesia dan Liputan6, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 48.889,69 hektare hingga 9 Agustus 2026. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, disusul Riau dan Kalimantan Tengah.
Kebakaran juga terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi. Di Gunung Soputan, luas area yang terbakar telah mencapai lebih dari 1.000 hektare. Sementara itu, sekitar 520 hektare kawasan di Bromo turut terdampak.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran. Lahan yang kering, minim hujan, angin kencang, serta terbatasnya akses dan pasokan air membuat proses pemadaman semakin sulit.
Di Kalimantan Tengah, BMKG mendeteksi 593 titik panas pada 7 Agustus 2026. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya potensi kebakaran di wilayah yang mengalami kondisi kering.
Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Sejumlah kebakaran juga diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan, pembakaran sampah, puntung rokok, hingga api yang tidak dipadamkan dengan sempurna.
Dampak karhutla tidak hanya berupa hilangnya kawasan hutan. Kebakaran juga mengancam sumber penghasilan warga, habitat satwa, kualitas udara, serta keselamatan masyarakat dan petugas yang melakukan pemadaman.
Lebih dari 107 ribu hektare lahan yang terbakar menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Di balik angka tersebut terdapat ekosistem, ruang hidup, dan mata pencaharian masyarakat yang ikut terdampak.
Informasi mengenai luas kebakaran tersebut dilansir dari BBC Indonesia dan Liputan6 dalam laporan mereka pada Agustus 2026.
