Iran secara tegas menolak tawaran mediasi dari Indonesia terkait konflik yang semakin memanas dengan Amerika Serikat dan Israel. Penolakan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyebut negaranya telah menutup pintu negosiasi akibat pengalaman pahit dalam proses diplomasi sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa Iran telah mencoba menempuh jalur diplomasi sebanyak tiga kali dalam konflik sebelumnya. Namun, menurutnya, setiap upaya dialog selalu berakhir dengan serangan militer ketika pembicaraan hampir mencapai kesepakatan.
Hal tersebut membuat pemerintah Iran kehilangan kepercayaan terhadap proses negosiasi internasional. Akibatnya, Iran kini memilih pendekatan berbeda dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung.
“Iran telah mencoba diplomasi beberapa kali. Namun setiap kali pembicaraan hampir mencapai kesepakatan, justru terjadi serangan militer,” kata Boroujerdi sebagaimana dilansir dari voxaNOW.
Menurutnya, pengalaman tersebut membuat Iran memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan jalur diplomasi dalam menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebaliknya, negara tersebut kini lebih memilih menghadapi situasi melalui kekuatan militer di medan pertempuran.
Sebelumnya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai mediator guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Indonesia berharap dialog diplomatik dapat menjadi jalan keluar bagi konflik yang terus meningkat.
Namun, sikap Iran tetap tidak berubah meskipun tawaran tersebut datang dari Indonesia. Penolakan tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memperburuk hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Penolakan Iran terhadap mediasi internasional menjadi sinyal bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi semakin memanas. Dalam situasi saat ini, kemungkinan penyelesaian melalui jalur militer dinilai lebih besar dibandingkan melalui diplomasi.
Perkembangan ini juga menambah kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas keamanan global, terutama jika konflik terus meningkat tanpa adanya jalur dialog yang terbuka.
