Pemerintah Indonesia mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan energi nasional di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah mengambil langkah cepat dengan memesan minyak mentah dari Amerika Serikat guna memastikan pasokan energi dalam negeri tetap aman.
Kebijakan ini diambil setelah Iran menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia. Penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi global, termasuk pasokan minyak ke kawasan Asia.
Sekitar 25 persen impor minyak Indonesia yang sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah kini mulai dialihkan ke Amerika Serikat. Pemerintah menilai diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan distribusi energi.
Menurut Bahlil, pengiriman minyak dari Amerika Serikat tidak dapat dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak nasional.
“Bertahap, ya bertahap itu kan bertahap, enggak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan enggak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage,” ujar Bahlil, seperti dilansir dari Detikcom.
Selain melakukan pengalihan impor, pemerintah juga tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak strategis. Fasilitas ini dirancang agar Indonesia dapat memiliki cadangan minyak nasional yang mampu bertahan hingga tiga bulan.
Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut telah dilaporkan kepada Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya pemerintah untuk memastikan pasokan energi tetap stabil dan tidak terganggu oleh situasi geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
