Naratifmedia.com – Pemerintah Iran membatasi akses pelayaran di Selat Hormuz dan hanya memberikan jalur aman kepada enam negara yang dianggap sebagai “negara sahabat”. Kebijakan ini diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan konflik yang berdampak pada jalur distribusi energi global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa hanya enam negara yang mendapatkan akses prioritas di Selat Hormuz. Negara tersebut meliputi China, Rusia, Pakistan, Irak, India, dan Bangladesh.
Dalam pernyataannya, Iran tidak memasukkan Indonesia ke dalam daftar tersebut. Meski demikian, akses pelayaran tidak sepenuhnya ditutup, tetapi kini berada di bawah pengawasan ketat seiring meningkatnya situasi konflik di kawasan.
Iran juga menegaskan bahwa kapal dari negara yang dianggap sebagai pihak lawan, seperti Amerika Serikat dan Israel, tidak diizinkan melintasi jalur tersebut. Kebijakan ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak langsung pada jalur perdagangan global.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat ini setiap harinya. Karena itu, pembatasan akses di kawasan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas energi dunia.
Sejak konflik memanas, lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis hingga sekitar 95 persen. Kondisi ini memicu gangguan rantai pasok energi, peningkatan biaya distribusi, serta tekanan terhadap perekonomian global.
Situasi ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat langsung memengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Negara-negara yang bergantung pada jalur distribusi energi internasional kini menghadapi risiko ketidakpastian yang semakin besar.
